Leksa Yang Sedang Dag Dig Dug

Maret 27, 2008

Used to Love Her

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 9:29 pm

I used to love her, but I had to kill her
I had to put her
Six feet under
And I can still hear her complain

I used to love her, but I had to kill her
I knew I miss her
So I had to keep her
She’s buried right in my back yard

I used to love her, but I had to kill her
She bitched so much
She drove me nuts
And now I’m happier this way

I used to love her, but I had to kill her
I had to put her
Six feet under
And I can still hear her complain

Used to Love Her - GnR

Maret 25, 2008

Kata-kata

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 2:58 am

Dalam sebuah kerinduan yang menyesakkan udara,
ada kata-kata jujur yang mengalir tanpa terbendung apapun,
tanpa redam dari angin malam…
Ternyata kata-kata tidak pernah cukup

Jika kau merasakan angin,
seperti itulah hembusan nafasku saat berucap,
Jika kau melihat bulan purnama bersinar,
seperti itulah cahaya dari mata ini saat membuka suara,
Jika kau melihat Tsunami maha dahsyat beriak,
seperti itulah rasa geram ku ingin memelukmu saat kata-kata ini keluar…

Tetapi, kata-kata hanya barisan suara dalam lafal huruf..
aku tidak pernah pandai merangkainya sebagai hasrat-hasrat itu…

Hasrat tanpa kata-kata hanya bagi mereka yang hidup bahagia di bulan..

Maret 24, 2008

Resah Karena Tai

Diarsipkan di bawah: puisi, renungan — leksa @ 4:49 am

Teronggok seperti tai. Walaupun bau tetapi memikat penasaran untuk dilihat oleh mata. Itulah cinta, sayang. Maka tidak heran jika ada orang yang mengatakan cinta itu sama dengan tai. Bahkan aku juga paling anti mengucapkan kalimat ini - “Aku Mencintai mu”. Karena bagiku, kalimat itu sangat mudah dipelesetkan menjadi “Aku Mencium Tai mu”.

Jadi lupakan lah ada kalimat itu dalam kamus besar ku. Jangankan untuk dirimu, bahkan Tuhan saja kadang ragu menerima doa dari ku, menerima cinta dari ku. Karena Dia takut aku pelesetkan begitu…Aku Mencium Tai-Mu.

Jika kamu masih rela, cukuplah kita saling menjamu layaknya Yesus dalam perjamuan terakhir itu. Tentunya dengan kepala-kepala resah kita, hati-hati gundah kita. Oh, satu lagi, jangan taruh tangan mu di belakang badan ku. Bukan aku menolak dipeluk oleh mu, hanya saja tidak lucu kalau sampai perjamuan kita terekam oleh pelukis Malioboro, dan akhirnya aku tahu kamu berusaha menikam ku dari belakang.

Maret 19, 2008

Tamasya di Bulan

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 1:15 am

Kalau bulan bersinar terang,
kita bisa memetik bintang-bintang diatas sana
kemudian duduk-duduk di bulan
menghitung bintang-bintang dalam keranjang kita

Jangan khawatir dengan dingin malam,
aku selalu membawa segelas kapucino hangat dalam 2 genggaman tangan..

Maret 16, 2008

Sekilas

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 12:39 pm

Seleksa napas dibawa pergi..
seiring dengan angin membawa kabar dunia yang menua

cuma sekilas lewat tapi aku cukup puas, sayang…

generiert in 1,119 Sekunden. | Theme pack from WPMUDEV by Incsub. | Powered by WordPress