Leksa Yang Sedang Dag Dig Dug

Maret 27, 2008

Used to Love Her

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 9:29 pm

I used to love her, but I had to kill her
I had to put her
Six feet under
And I can still hear her complain

I used to love her, but I had to kill her
I knew I miss her
So I had to keep her
She’s buried right in my back yard

I used to love her, but I had to kill her
She bitched so much
She drove me nuts
And now I’m happier this way

I used to love her, but I had to kill her
I had to put her
Six feet under
And I can still hear her complain

Used to Love Her - GnR

Maret 26, 2008

Sama Saja

Diarsipkan di bawah: renungan — leksa @ 8:16 am

Entah pertama, kedua atau ke berapapun…
rasanya tetap sama..ya seperti itu-itu saja
tidak ada yang istimewa..

itulah cinta kawan…

Maret 25, 2008

Kata-kata

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 2:58 am

Dalam sebuah kerinduan yang menyesakkan udara,
ada kata-kata jujur yang mengalir tanpa terbendung apapun,
tanpa redam dari angin malam…
Ternyata kata-kata tidak pernah cukup

Jika kau merasakan angin,
seperti itulah hembusan nafasku saat berucap,
Jika kau melihat bulan purnama bersinar,
seperti itulah cahaya dari mata ini saat membuka suara,
Jika kau melihat Tsunami maha dahsyat beriak,
seperti itulah rasa geram ku ingin memelukmu saat kata-kata ini keluar…

Tetapi, kata-kata hanya barisan suara dalam lafal huruf..
aku tidak pernah pandai merangkainya sebagai hasrat-hasrat itu…

Hasrat tanpa kata-kata hanya bagi mereka yang hidup bahagia di bulan..

Maret 24, 2008

Machievelli

Diarsipkan di bawah: renungan — leksa @ 4:55 am

Kau percaya Machievelli itu kejam dan penuh dendam. Tukang kuasa yang tidak kenal dosa. Kau bilang buku tuanya itu yang bercerita bahwa kekejamannya menurunkan cerita politik tidak berperikemanusiaan dimana-mana. Ah, kau cuma tahu isi bukunya, kawan..

Coba saja kau tanya tetangganya, mungkin saja buku itu adalah karangan anaknya? Mungkin saja buku itu adalah kumpulan jiplakan dari tetangganya? Mungkin saja buku itu adalah hasil curian naskah dari seorang napol.

Yang aku tahu, Machievelli adalah politikus yang pulang kampung, mengasah rindunya dengan anak-anak dan istrinya. Hidup bahagia mengakhiri masa-masa politiknya dengan keluarga yang menyenangkan. Keluarga yang ditinggalkannya sekian tahun ketika duduk di kursi kekuasaan.

Dan dikala senggang tiba, diantara tawa anak-anaknya, dia menulis buku kejam itu, kawan.

Resah Karena Tai

Diarsipkan di bawah: puisi, renungan — leksa @ 4:49 am

Teronggok seperti tai. Walaupun bau tetapi memikat penasaran untuk dilihat oleh mata. Itulah cinta, sayang. Maka tidak heran jika ada orang yang mengatakan cinta itu sama dengan tai. Bahkan aku juga paling anti mengucapkan kalimat ini - “Aku Mencintai mu”. Karena bagiku, kalimat itu sangat mudah dipelesetkan menjadi “Aku Mencium Tai mu”.

Jadi lupakan lah ada kalimat itu dalam kamus besar ku. Jangankan untuk dirimu, bahkan Tuhan saja kadang ragu menerima doa dari ku, menerima cinta dari ku. Karena Dia takut aku pelesetkan begitu…Aku Mencium Tai-Mu.

Jika kamu masih rela, cukuplah kita saling menjamu layaknya Yesus dalam perjamuan terakhir itu. Tentunya dengan kepala-kepala resah kita, hati-hati gundah kita. Oh, satu lagi, jangan taruh tangan mu di belakang badan ku. Bukan aku menolak dipeluk oleh mu, hanya saja tidak lucu kalau sampai perjamuan kita terekam oleh pelukis Malioboro, dan akhirnya aku tahu kamu berusaha menikam ku dari belakang.

Maret 19, 2008

Tamasya di Bulan

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 1:15 am

Kalau bulan bersinar terang,
kita bisa memetik bintang-bintang diatas sana
kemudian duduk-duduk di bulan
menghitung bintang-bintang dalam keranjang kita

Jangan khawatir dengan dingin malam,
aku selalu membawa segelas kapucino hangat dalam 2 genggaman tangan..

Maret 17, 2008

Tuhan dan Manusia

Diarsipkan di bawah: renungan — leksa @ 2:15 pm

Tuhan bertanya kepada seorang Manusia tentang tugasNya…

Wahai Manusia makhluk Ku paling sempurna.. Apakah kau punya keluh kesah dengan kerja Ku selama ini?, tanya Sang Tuhan.

Oh sang Tuhan yang hamba puja puji,.. ampun beribu ampun.. hamba tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena takut menyebabkan Kau murkai seluruh alam semesta ini, jawab si manusia.

Katakan saja kepada Ku keluh kesah mu. Bukankah kau tahu bahwa Aku maha pemurah dan pengasih, tegas mengulang dari Sang Tuhan.

Justru karena Engkau Maha Pengasih, maka hamba tidak bisa menjawab ini. Karena Kau tentunya akan lagi dan lagi Mengasihi hamba yang penuh dosa ini,.. hamba malu wahai Tuhan Agung, kembali jawab si Manusia.

Hee.. jangan GR kamu. Darimana kau tahu bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa besar mu?, tanya si Tuhan kembali keheranan.

Begitupun hamba wahai Tuhan. Darimana hamba tahu bahwa Engkau telah benar-benar mengampuni dosa-dosa Hamba?, jawab si Manusia lagi.

Maret 16, 2008

Sekilas

Diarsipkan di bawah: puisi — leksa @ 12:39 pm

Seleksa napas dibawa pergi..
seiring dengan angin membawa kabar dunia yang menua

cuma sekilas lewat tapi aku cukup puas, sayang…

generiert in 0,828 Sekunden. | Theme pack from WPMUDEV by Incsub. | Powered by WordPress